Menyikapi Masalah

Posted: September 3, 2009 in Kontemplasi
masalah

dipinjam dari http://rifuzy.wordpress.com

Berat rasanya mengangkat badan ini dari tempat tidur. Itu karena semalam aku tidak mendapat porsi tidur yang semestinya. Susah tidur memang tidak meyenangkan. Ironisnya jam kuliah yang didominasi oleh jam 7 pagi semakin membuat aku tersiksa oleh keadaan ini. Susah tidur tanpa disadari membuat susah bangun juga:)  Di lain hal, hasil nilai kuliahku pada semester sebelumnya bahkan lebih buruk dari predikat “kurang”. 2 hari yang lalu nenekku tercinta pergi untuk selamanya, sayangnya aku tak bisa hadir di acara pemakamannya karena alasan menuntut ilmu di Tanah Jawa. Mbah maafkanlah aku karena tak bisa menjadi cucu yang baik untukmu, maafkan segala kesalahan dan kekuranganku. Semoga Engkau mendapat tempat yang baik bersamaNYA.

Dan yang paling menyedihkan, aku harus menerima kenyataan bahwa orang yang kucintai tlah pergi meninggalkanku dan mengikat janji sehidup semati dengan lelaki lain. Betapa bodohnya aku, setelah menyadari ternyata 2 tahun telah dibohongi. Memalukan sekali.

Sempurnalah sudah keterpurukanku dan lengkaplah sudah penderitaan ini. Apalagi yang bisa dibanggakan dari diriku? Aku bisa saja menjadi seorang pecundang, lari dan bersembunyi dari masalah ini. Atau aku juga bisa melakukan hal-hal yang diluar akal sehat. Namun setelah sekian lama merenungi diri, aku memilih untuk menghadapi ini, memilih untuk menjalani ini. Apa sebenarnya tujuan hidup ini? Bukankah salah satu tujuannya adalah untuk menghadapi masalah? Karena bisa dipastikan tak ada satupun manusia di bumi ini yang tidak mempunyai masalah. Masalah adalah proses pendewasaan. Ada sebuah pencapaian yang kita dapatkan setelah melewatinya. Karakter kita diuji dengan bagaimana kita menghadapi masalah. Apa kita seorang pejuang atau pecundang? Dengan kesadaran ini, aku memilih untuk menghadapi semua masalah itu, karena aku yakin dibalik semua itu ada sesuatu yang akan mencerahkan hidupku. Semoga.

Advertisement
Comments
  1. Andi says:

    Tulisan yang kontemplatif…
    Coba lihat tulisan lain di sini http://madeandi.wordpress.com/2009/09/03/surat-untuk-pangeran/

  2. Mangku Bagus says:

    wakakakakak
    digubah jadi cerpen kayaknya bagus bro…
    bisa minta cerita nya…???
    ntar tak gubahkan sebuah karya dari ini…
    Ok…???

  3. andika says:

    Ok. Boleh jg tu mas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s