
- dipinjam dari http://downloadperpusmasda.blogspot.com
Saya bukanlah tipe orang yang suka membaca. Saya biasanya cepat bosan membaca buku jika tulisannya tak menarik perhatian. Tidak baik memang, jangan ditiru ya
Namun Novel Maryamah Karpov telah mengubah kebiasaan itu. Maryamah Karpov adalah buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi, setelah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Saya yakin sebagian besar dari Anda pasti sudah tahu. Seperti pada novel sebelumnya, Andrea Hirata telah memainkan emosi saya dalam membaca Maryamah Karpov. Gaya penulisannya yang sederhana namun sarat akan makna adalah keistimewaannya, dan tingkat emosi yang membuat saya trans ketika membacanya. Keseriusan Andrea menggarap novel ini juga sangat terasa yang ditandai dengan banyaknya kata-kata ilmiah didalamnya. Seperti tanaman Jambu Mawar yang disebut dengan “Syzygium jambos” (hal.113). Luar biasa. Tak ada rasa lelah ketika membacanya. Novel ini bercerita tentang seorang pemuda Melayu yang ingin sekali bertemu dengan perempuan pujaan hatinya, A Ling. Ikal nama pemuda itu. Apapun Ikal lakukan demi perempuan itu. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Untuk lebih jelas dengan ceritanya, silahkan beli bukunya
Sebagai seorang mahasiswa, saya mendapatkan kekuatan tersendiri dengan membaca novel ini. Pelajaran moral yang saya dapat “bermimpilah setinggi-tingginya dan berjuanglah untuk mewujudkannya”, seperti kata Ikal “nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani”(hal.33). Kalimat ini keramat, menurut saya. Entah kenapa bulu kuduk merinding setiap kali membacanya. Namun seperti kata pepatah, “tiada gading yang tak retak”, tentunya novel ini pasti memiliki kekurangan, sementara sebagai orang yang awam tentang sastra, saya tidak bisa menemukan kekurangannya, bukan karena tidak ada, sekali lagi semata-mata karena keawaman saya tentang sastra dan karena itupun tak banyak komentar yang bisa saya sampaikan menyangkut novel ini. Untuk menulis saja, saya harus masih banyak belajar. Saya berharap nantinya akan ada pembaca cermat yang bisa menemukan kekurangan dalam novel ini, yang tentunya akan jadi evaluasi. Kalau boleh bersaran, tidak ada ruginya untuk membeli dan membaca novel ini, seperti kata seseorang yang selalu membuat saya ‘terkesan’ pelajaran bisa datang dari mana saja, adalah kepekaan untuk menyarikannya”. Wah, ujung-ujungnya promosi
Selamat membaca.
